KISAHKU
Sejak kecil aku dibesarkan di suatu yayasan Kristen yatim piatu, yang jauh dari ayah dan ibuku. Di yayasan ini tinggal kurang lebih enam ratus orang mulai dari balita sampai orang jompo.
Orang-orang yang tinggal disini berasal dari penjuru Nusantara dengan latar belakang broken home. Meskipun menyandang nama yayasan yatim piatu, tapi anak-anak yang tinggal atau masuk di yayasan ini justru anak orang-orang gedongan.
Disini, mulai dari kebutuhan sehari-hari, makan, pakaian, sekolah sampai perguruan tinggi ditanggung oleh yayasan. Jadi anak yang baru masuk di yayasan yang punya nama yayasan “DEBORA” kebanyakan tidak betah rasanya kepengen kabur, karena disini dididik kedislipinan dan senioritas.
Biasanya anak baru dibuat kalah-kalahan oleh seniornya, seperti yang aku alami juga waktu baru masuk, tapi setelah aku resapi dan aku renungi akhirnya enjoy saja. Bahkan lama kelamaan betah dan tidak mau meninggalkan yayasan ini.
Disini, seluruh anak yang tinggal harus mengikuti dan mentaati peraturan-peraturan yang diterapkan oleh yayasan. Setiap anak diberi jadwal sebagai kegiatan sehari-hari. Mulai dari jam 04.00 WIB harus bangun pagi mengikuti doa dan renungan di Gereja sampai jam 05.30 WIB setelah itu masing-masing anak melaksanakan tugasnya membereskan baraknya, mulai dari bereskan tempat tidur menyapu dan mengepel, setelah itu mandi lalu sarapan pagi, tepat jam 06.45 WIB berangkat sekolah.
Setelah datang dari sekolah jam 14.00 WIB makan siang, setelah makan siang dibagi tugas lagi membereskan Aula habis dipakai makan, setelah selesai semua harus tidur siang dibarak masing-masing dan dikunci untuk menghindari kelayapan.
Lalu jam 16.00 WIB bangun membereskan lagi baraknya masing-masing, setelah itu mandi. Tepat pukul 17.30 WIB makan malam telah siap, setelah selesai bereskan kembali Aula habis dipakai makan. Setelah selesai semua anak diwajibkan belajar di Aula dengan pengawasan yang ketat sampai pukul 20.30 WIB. Habis belajar semua kembali harus masuk Gereja mengikuti doa malam sampai pukul 22.00 WIB. Selesai dari Gereja lalu tidur dan harus bangun lagi pukul 04.00 WIB untuk kembali mengikuti doa pagi, jadi jadwal berlaku terus sampai tdak ada waktu untuk bermain layaknya anak-anak diluar yayasan.
Kehidupan dengan tinggal diyayasan ini aku jalani selama kurang lebih lima belas tahun tanpa diketahui orang tuaku, karena aku diajak oleh kakakku. Apalagi orang tuaku juga seperti masa bodoh tidak mau tahu sama aku ketimbang istri barunya. Tapi tidak apalah ini juga demi masa depanku untuk menuntut ilmu, kalau bukan menuntut ilmu siapa sich yang mau tinggal di yayasan dan dapat didikan seketat itu, seperti kehilangan masa-masa senang waktu kecil. Ini ada untungnya juga, setelah keluar dari yayasan ini aku bisa hidup tanpa harus bergantung pada orang lain. Setelah sekian lama aku dibesarkan dan dibimbing mengikuti ajaran gerejani, tiba-tiba setiap aku dengar adzan hatiku bergetar. Pada mulanya aku anggap biasa saja, tapi lama-lama setiap adzan berkumandang aku merasakan ada kesejukan dalam hatiku. Lalu aku bertanya-tanya, ada apa ini? Mulai aku merasa bimbang dengan kekristenanku ingin rasanya aku pergi ke masjid, tapi aku tidak berani karena melihat saudara-saudaraku. Kebetulan di dekat tempat tinggalku, aku bertemu dengan seorang gadis yang membuat aku jatuh cinta, gadis itu seorang muslim yang khusyuk. Dalam kesempatan ini aku percepat untuk ambil keputusan menikah dengannya, jadi ada alasan bagiku untuk masuk muslim meski banyak pertentangan dari saudara-saudaraku. Bukan hanya itu cobaan yang aku alami masih banyak lagi, terutama materi, rumah dan harta yang aku kumpulin habis seperti di kuras. Terpaksa aku harus hidup mulai dari nol lagi, alhamdulillah dengan modal keyakinan dan ketabahan sekarang sudah mulai merangkak lagi.